Bekasi
Air Kali Bekasi Menghitam dan Berbusa di Puncak Kemarau

Air Kali Bekasi Menghitam dan Berbusa di Puncak Kemarau

06 Aug 2026
           

Memasuki pertengahan Agustus 2026, fenomena tahunan perubahan kondisi air Kali Bekasi kembali berulang dan memicu keluhan luas dari warga setempat.

Memasuki puncak musim kemarau, aliran sungai yang melintasi kawasan pemukiman padat tersebut tampak menghitam pekat, mengeluarkan busa putih tebal di beberapa titik bendungan, serta menyebarkan bau menyengat yang mengganggu kenyamanan lingkungan.

Kondisi ini disinyalir dipicu oleh menurunnya debit air alami dari hulu Sungai Cikeas dan Cileungsi, sehingga konsentrasi polutan dan dugaan buangan limbah cair industri menjadi jauh lebih pekat dari biasanya.

Upaya DLH dan Kerja Sama SPAM Jatiluhur

  • Pengambilan Sampel Air: Tim Pengawasan dan Gakkum DLH Kota Bekasi menerjunkan personil ke sejumlah titik krusial—termasuk di area Presa Bendung Bekasi—untuk mengambil sampel air guna pengujian parameter kimia di laboratorium.

  • Inspeksi Industri Perbatasan: DLH Kota Bekasi berkoordinasi dengan DLH Kabupaten Bogor dan Provinsi Jawa Barat untuk menyisir pabrik-pabrik di sepanjang bantaran Kali Cileungsi yang diduga membuang limbah tanpa pengolahan IPAL yang memadai.

  • Kerja Sama Pasokan Air Baku: Kepala DLH Kota Bekasi, Kiswati, menyatakan bahwa salah satu upaya jangka panjang yang dilakukan adalah menjalin kerja sama dengan Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) Jatiluhur untuk menambah pasokan air baku bagi Perumda Tirta Patriot Kota Bekasi.

Penyesuaian Ekstrem Pengolahan Air Bersih

Manager Produksi Perumda Tirta Patriot Kota Bekasi, Ahmad Giri Widodo, mengungkapkan bahwa memburuknya kualitas air Kali Bekasi yang tercemar berat membuat proses pengolahan air menjadi jauh lebih berat dibandingkan kondisi normal. Untuk menjaga kualitas distribusi air ke masyarakat, Perumda Tirta Patriot mengambil sejumlah langkah penanganan khusus:

  • Penambahan Aerasi dan Pre-Klorinasi: Proses aerasi dan pre-klorinasi ditingkatkan pada tahap awal pengolahan guna menaikkan kadar oksigen sekaligus membunuh bakteri di dalam air baku.

  • Peningkatan Dosis Bahan Kimia: Dosis bahan kimia penunjang dinaikkan agar proses pengendapan lumpur dan polutan berlangsung lebih optimal.

  • Penurunan Kapasitas Produksi: Perumda Tirta Patriot terpaksa menurunkan kapasitas produksi air dari yang biasanya 500–600 liter per detik menjadi sekitar 500 liter per detik untuk menyesuaikan dengan kualitas air baku yang terbatas.

  • Meski berbagai teknik penyesuaian telah diterapkan, Giri mengakui bahwa kondisi air baku yang sudah berwarna hitam pekat dan berbau menyengat tetap menjadi kendala serta tantangan besar dalam proses produksi air bersih harian. Warga diimbau untuk tetap menghemat penggunaan air bersih selama masa penyesuaian ini berlangsung.

    di share oleh :

    Zainal Arifin